Di sebuah kursi yang terletak di lorong Kampus, duduklah seorang akhwat bernama Lili, ia terlihat sangat cantik dengan jilbab panjang biru mudanya yang menjulur menutupi dadanya, wajahnya tampak khusyuk membaca buku saku yang ada di tangannya, yang ternyata adalah Al-Matsurat yang tiap pagi dan petang rutin ia baca. Ketika sedang menyelami ayat-ayat dzikir ituu.. tiba-tiba... (Prolog)
Alif : “Assalamu’alaikum, Ukhti...”
Lili : “Wa’alaikum salam...” (Agak kaget dan sedikit bengong menatap wajah sang ikhwan yang tampan , kemudian menduduk)
Alif : “Afwan Ukhti, Apa anti tahu dimana tempat Markas Besar LDK disini?”
Lili : “Hmm, tau, memang ada apa ya Akh?”
Alif : “Ana mahasiswa baru pindahan dari Jogja dan berniat mau bergabung di LDK ini. Menurut info yang ana dapet, pendaftaran dibuka di Mabes?”
Lili : “Iya Akh, bener. Mabes ada disamping Masjid Kampus.”
Alif : “Syukron. Anti angggota LDK juga?”
Lili : “Na’am. Kenapa Akh?”
Alif : “Gapapa. Kalau gitu ana mau langsung ke Mabes aja. Wassalamu’alaikum.”
Lili : “Wa’alaikum salam.”
Lili tanpa sadar terus menatap kepergian sang ikhwan yang belum diketahui namanya itu, desir-desir halus telah masuk menjalar memenuhi rongga-rongga hatinya. Yaa.. desir-desir itu sebentar lagi akan menebarkan virus ke seluruh penjuru hati tanpa celah. Virus ini sangat berbahaya bagi manusia, berbahaya jika tak mampu memaknainya dengan benar. Ia bernama Virus Merah Jambu. Yang pasti pernah dirasakan oleh setiap insan manusia. (Prolog)
Lagu : “Takdir Cinta (Rossa)” (1 bait pertama).
*Lili senyam-senyum sendiri
Sasha : “Li, anti kenapa? Kok mesam-mesem sendiri?”
Lili : “Gapapa, Sha...”
Sasha : “Wah…jangan-jangan anti kesambet setan lorong tuh, tengah hari bolong gini anti senyum-senyum sendiri, hehehe..”
Lili : “Huuu, ngaco deh! (manyun) yuuk, kita ke Mabes aja, ngadeeem!!
Sasha : “Yohaa. Ana juga mau ambil buku yang ketinggalan disana nih!”
Lili : “Sayang Ukhti Sasha karena Allah.” (ekspresi senang sambil meluk)
Sasha : “Aduh..aduh..aduh.. sayang Ukhti Lili juga karena Allah. (suaranya agak terputus-putus karena pelukan yang erat banget) Nggak bisa napas nih!”
Lili : (Refleks lepasin pelukannya, terus cengar-cengir)
Sasha : “Ada apa sih Ukh Lili? Kok girang bener? Abis menang lotre?”
Lili : (senyam-senyum) “Ada deh! Want to knooooww ajaa!
Sasha : “Nggak asik.” (manyun)
Lili : “Dih jelek! Nggak bagus ah, Ukhti Sasha senyum dong?”
“Cup..cup..cup nanti aja di kost-an ceritanya. Tuh kan malah jadi ngobrol, udah akh ayoo kita ke Mabes?!”
Sasha : “Beneran yaa certain di kost-an? nanti ana tagih lho..?”
Lili : “Sippo, Ukh!”
Mereka berjalan menuju Mabes, dipersimpangan jalan, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berteriak memanggil nama mereka berdua. (Prolog)
Satya : “Sashaa... Lilii......” (setengah berteriak)
L & S : (Keduanya menoleh ke arah sumber suara)
Sasha : “ Ada apa sih kak Setya teriak-teriak gitu???”
Lili : “Kita samperin aja yuk! Pamali ah ikhwan teriak-teriak. Udah kayak di hutan aja.”
Sasha : “Iya…gak sopan…” (jalan menghampiri Satya)
Lili : “Ada apa sih Kak?”
Satya :“Besok ada undangan Seminar tentang rencana RUU kesetaraan gender dari FSLDK.”
Sasha : “Teruuss?”
Satya : “Karena memang ana sudah ada agenda sebelumnya, nanti Ukh Lili pergi bareng sama Akh Alif aja ya?”
Lili : “Siapa itu Akh Alif, Kak? Memang undangannya terbatas?”
Satya : “Akh Alif itu anggota baru LDK Al-Iqtishad, dia juga adik sepupu ana. Karena ikhwannya juga lagi pada nggak bisa, makanya biar Akh Alif ajas yang jadi wakil ana.”
Lili : “Ana bisa minta nomer HP-nya gak Kak? Tolong disave-in ya. (mengeluarkan HP)
Satya : “Oke.” (mengambil HP Lili)
Sasha : “Yaah ana ga bisa ikutan yaa Kak?”
Satya : “Hmm, gimana yaa, diundangannya tertulis gitu sih. Jadi Ana juga Cuma ikutin apa yang ditulis diundangan aja.”
Sasha : “Yoo wiss-lah, ndak apa-apa. Nanti di share aja yaa Li?”
Lili : “Insya Allah, pasti. Lagian kalo sampe nggak di share, aku bisa ditelen idup-idup sama kakak yang satu ini.” (sambil melirik ke arah Satya)
Satya : “Mulai deh kumat lebaynya, ckckckck.”
Sasha : “Hehe, si Kakak kayak baru kenal sama Lili aja. Kalo nggak lebay bukan Lili namanya Kak…hehehehe”
Lili : “Terus siapa dong?”
Sasha : “Lilin.”
Satya : “Mulai ngawur nih, udah yaa ana mau ke kelas dulu. Assalamu’alaikum.”
Bareng” : “Wa’alaikum salam.”
Di depan Masjid Kampus, Lili terus saja mondar-mandir mirip kayak setrikaan, ia resah menunggu kedatangan Alif, pikirannya masih menerka-nerka, benarkah Alif adalah ikhwan yang ia temui tadi pagi di lorong Kampus? satu jam yang lalu, ia sudah mengirimkan pesan singkat untuk Alif melalui handphonenya. Tapi tak ada balasan apapun dari sang penerima pesan. Lili makin gelisah, Jam ditangannya menunjukkan pukul satu siang. Sedangkan acara seminar dimulai pukul dua..
Sasha : “Assalamu’alaikum, yuk kita berangkat.”
Lili : “Berangkat kemana? Ana masih nunggu Akh Alif nih.”
Sasha : “Anti nggak jadi berangkat sama Akh Alif, tapi sama ana Ukh.”
Lili : “Loh kok gitu?”
Sasha : “Akh Alif itu sekarang satu kelas sama ana Ukh, Subhanallah orangnya baik banget. Dia nggak bisa ikut Seminar karena ada keperluan mendadak.” (dengan ekspresi mata berbinar-binar)
Lili : “Ooh gitu.. Emang baiknya seperti apa Ukh?”
Sasha : “Jadi tadi ceritanya,. Putra temen ana yang emang suka sakit-sakitan, jatuh pingsan tanpa sebab, terus Akh Alif dengan cekatan bantu Putra n langsung dibawa ke rumah sakit.”
Lili : “Yeee,, itu mah udah kewajiban atuh neng, buat nolong sesama.”
Sasha : “Tapi tadi anak-anak di kelas pada cuek banget Ukh. soalnya udah apal banget sama kebiasaannya Putra yang gampang pingsanan. Tapi Akh Alif tetep peduli walaupun temen-temen bilang nanti juga baikan lagi.”
Lili : “Hmm gitu. Subhanallah yaa.”
Sasha : “Iya Ukh.”
Anggi : “Duh..duh.. eneng-eneng cantik, pada ngerumpi dibawah poon, nggak ngajak-ngajak lagi? Huh..” (ekspresi centil)
Lili : “ Miss Heboh datang, kabuuurrr..” (menarik lengan Sasha, mengisyaratkan untuk segera pergi –tapi bercanda)
Sasha : “Laksanakan! Kabuuurrrr...”
Anggi : “Hih! Tega deh kalian, aku datang membawa kabar penting tau!” (ekspresi manyun sambil mencegah kepergian Sasha dan Lili)
Sasha : “Emang ada apa sih Anggi cantik?”
Anggi : “Ba’da isya kita liqo di rumah Ukh Selvi. Pada bisa dateng kan?”
L & S : “Siap bos!”
Lili : “Hmm, yaudah yaa Ukh, kita mau pergi dulu. Nanti langsung ketemu dirumahnya Ukh Selvi aja.”
Anggi : Na’am ukhti.
>>>>>>>>
Lingkarannya membawa berkah, disaat satu lutut dan lutut saling menyentuh satu sama lain, disanalah terjalin ukhuwah islamiyah yang indah, berbagi ilmu, saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kebaikan. Di waktu seperti itulah, para malaikat turun dari langit mengibarkan sayapnya kemudian melingkupi sekumpulan orang-orang yang mau mempelajari ilmu-Nya.. Agama Alloh, yang didalamnya banyak mengandung ajaran-ajaran yang mengagumkan bagi kehidupan.
(Buka Liqoan seperti biasa)
Umi Rina : “Assalamu’alaikum.”
Bareng” : “Wa’alaikum salam.”
Umi Rina : “Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam tak lupa kita junjungkan kepada nabi besar Muhammad SAW, beserta para sahabat, keluarga, dan orang-orang yang tetap istiqomah berjuang menegakkan islam. Karena berkat perjuangan beliau-beliaulah, sekarang kita bisa merasakan nikmatnya islam. Alhamdulillah, kita masih bisa berkumpul didalam liqo kali ini, mempelajari ilmu-Nya yang begitu luas. Semoga pertemuan hari ini, diberikan keberkahan, aamiin.”
Bareng” : “Aamiin.”
Wina : “Umi, hari ini tema kita apa?” (tanyanya antusias banget)
Umi : “Kalian maunya apa?”
Selvi : “Hmmm, semua tema yang Umi bawain pasti jadi menarik, kita tafadhol sama Umi aja. Betul nggak teman-teman?”
Bareng” : “Setujuuuuuu.”
Umi Rina : “Okee, kali ini kita ngebahas tentang Cinta.”
Anggi : “Assiiikk.. ciiee, cintaa.. tambah galau deh nih kita-kita yang masih pada jomblo, hehehe.”
Selvi : “Wooo, itu sih anti aja yang galau, kalo ana mah insya Alloh anti galau.”
Wina : “Yakin Ukh?”
Anggi : “Huh, Ukh Selvi mah sok kuat aja tuh, padahal tiap malem ngadu terus tuh sama Allah, kapan yaa bisa punya pendamping yang 3S 1R?”
Umi Rina : “Apa itu 3S 1R Ukhti? Umi baru denger.”
Wina : “Hmmm, itu mah pasti kata-kata eksperimen lagi deh Mi, hehehe.”
Anggi : “Emang pada nggak tau yaa? Umi masa nggak tau juga sih?”
Umi Rina : Menggeleng, “Nggak tau, Ukhti Anggi yang cantik.”
Anggi : “Aah Umi nih, Anggi emang udah cantik dari dulu. Jadi enak. Syukron Umi, hehehe.”
Selvi : “ Yaaah…Umi salah tau, Ukh Anggi itu nggak bisa dipuji sedikit Mi, nanti dia bisa langsung terbang ke langit ke tujuh.”(sambil nyengir).
Wina : “Terus 3S 1R itu apa donk?”
Anggi : “Hehehe, Penasaran ya…3S 1R itu Sholeh, Smart, Setia n Romantic.”
Selvi : “Huuuu so sweet, mau dong dapet pendamping hidup yang kayak gitu,. , hehehe.”
Umi Rina : “Insyaallah, kalian akan mendaptkannya, minta saja sama Allah dan terus perbaikin diri kalian, luruskan semuanya hanya untuk Allah.”
Wina : “Setuju sama Umi, yaudah sekarang ana udah nggak sabar, mau nyimak tema about love dari Umi nih.”
Umi Rina : “Iya, udah yaa intermezzo-nya, sekarang kita coba masuk ke pembahasan. Umi mau nanya, apa definisi cinta, menurut kalian?
Anggi : “ Menurut Anggi, cinta itu rasanya kayak permen nano-nano. deg-degan, seneng, nggak karuan, perasaan mau menangis haru kalo berada dekat dengan sesuatu atau orang yang kita cinta.”
Wina : “Hmmm cinta itu suatu keindahan yang bergejolak di hati, fitrah setiap manusia yang harus dijaga dengan sebaik mungkin, tapi jangan sampai makna cinta berubah karena tak mampu memaknainya.”
Selvi : “Cinta itu merupakan anugerah dari Allah SWT untuk setiap hamba-Nya, agar setiap manusia saling mengasihi dan menyayangi satu dan lainnya.”
Umi Rina : “Subhanallah, jawaban-jawaban yang sungguh dapat dilihat kejujurannya. Lantas untuk siapa definisi cinta itu kalian tujukkan?”
Anggi : “Seharusnya yang paling utama itu hanya untuk Allah.. tapi Umi, pada kenyataannya kita dikasih anugerah sama Allah, untuk tertarik pada yang indah-indah. Ciptaan-Nya yang berasal dari planet Mars terkadang membuat hati ini bergejolak meledak-ledak bagai petasan, Mi.”
Selvi : “Wuuiiihh, Ukh Anggi. Tumben bisa puitis gitu, hehehe.”
Wina : “Hmmm, Ukh Selvi, Miss Heboh kita ini, emang sebenernya pandai merangkai kata.”
Selvi : “Tapi emang bener tuh, apa kata Ukh Anggi, Mi. Kadang atau malah sering kita cuma tau teori tapi sulit untuk prakteknya. ”
Wina : “He’eh, walaupun kita berusaha untuk tetep menomorsatukan Allah. Tapi tetep aja, gituu Mi masih suka belok-belok.”
Anggi : “Tuh kan bener? Jadi gimana dong Mi, Ayoo Umi cepet dijawab.”
Umi Rina : “Subhanallah, Ukhti-Ukhti sholehah, udah pandai sekaligus bisa memahami dirinya sendiri. Tau apa yang kalian rasakan dan mau jujur mengungkapkannya itu sesuatu yang luar biasa...”
Wina : Memotong pembicaraan Umi. “ Umii, merinding deh, dibilang Ukhti yang sholehah.”
Anggi : “Iya Umi, rasanya kita belom pantas menyandang gelar sholehah.”
Umi Rina : “Anak-anakku, Ukhti yang sholehah. Menjadi wanita sholehah itu dambaan dari setiap wanita yang ada di dunia ini. Tentu untuk menjadi sholehah, syarat utamanya adalah dengan cinta. Cinta terhadap Sang Pencipta yang letaknya di posisi tertinggi.”
Selvi : “Iya Umi, kita emang harus cinta sama Allah, tapi jika fitrah itu hadir, hati ini nggak bisa menolaknya dan nggak jarang kita malah lebih suka mikirin seseorang itu.”
Wina : “Iya Mi, Kalo udah gitu, kita suka sulit mengendalikan, walaupun kita itu nyadar, kalo hal ini tuh salah dan nggak boleh semakin bersemi tapi kita tetep aja terbawa sama perasaan yang pelan tapi pasti menyelusup kedalam hati ini.”
Umi Rina : “Yaa diusia kalian yang masih belia seperti sekarang, hal itu wajar terjadi dalam kehidupan. Tapi yang perlu kalian tahu, jika cinta terhadap lawan jenis itu hadir, maka cinta yang hakikatnya perlu untuk diungkap kemudian terus disemai seharusnya mampu kita rubah menjadi cinta yang diam dalam keheningan.”
Anggi : “Diam?? Tapi Mi, kita boleh nggak sekedar jujur tentang perasaan yang sedang kita rasakan sama orang yang kita suka itu, tapi kita nggak berharap untuk menjalin hubungan pacaran Mi ?”
Umi Rina : “Ada yang mau berargumen? Sebelum Umi coba jelaskan lebih mendalam?”
Wina : “Kalo menurut ana sih, jika cinta terhadap lawan jenis yang belum terikat dalam ikatan pernikahan, itu Cuma cinta semu jadi rasanya belum tepat untuk diungkapkan.”
Selvi : “Dan kalo kita tetap bersikeras untuk mengungkapkannya itu namanya kita udah kalah sam setan.”
Umi Rina : “Yaa,, kemudian setan akan bersorak sorai gembira. Apalagi kalo orang-orang yang berani mengungkap cinta itu adalah kalian yang sudah tertarbiyah dan tau betul apa hukumnya orang yang berpacaran dan segala efek yang ditimbulkan dari hubungan yang ilegal itu.”
Anggi : “Tapi setelah kita ngungkapin, kita nggak berharap atau mau dia jadi pacar kita. Cuma mau hati ini lega aja.”
Umi Rina : “ Memangnya Ukh Anggi bisa menjamin kedepannya, apakah setelah kata cinta itu keluar, nantinya akan tetap sesuai sama rencana awal? Bahwa ini cuma sekedar pengen jujur?”
Selvi : “Kayanya nggak ada yang bisa jamin deh Mi.”
Wina : “Betul Ukh, apalagi kalo ternyata cintanya nggak bertepuk sebelah tangan.”
Umi Rina : “Iya benar sekali apa kata Ukh Wina, pengungkapan cinta yang belum pada waktunya memang sesuatu yang perlu dihindari karena cinta itu masih belum pada tempatnya.”
Selvi : “Tempatnya yaa hanya saat kita sudah menikah, sama suami kita kelak.”
Wina : “Dan untuk dapetin pasangan yang sesuai sama kriteria dihati nggak perlu lewatin proses pacaran, hmmm.”
Umi Rina : “Tuh udah pada paham. Apa pembahasan kali ini, cukup sampai disini aja kali yaa.”
Selvi : “Jangan Umi, kasih tips n kiat-kiat untuk kita dulu, gimana caranya ngehandle kalo tiba-tiba cinta itu datang, disaat masa penantian kita?”
Belum sempat Umi mengeluarkan tipsnya, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Selvi dan mengucapkan salam...
L & S : “Assalamu’alaikum.”
Bareng” : “Wa’alaikum salam.”
Umi Rina : “Eh, ada Lili sama Sasha. Ayo sini gabung…”
Wina :“Alhamdulillah, aasiik, dibawain oleh-oleh..” (Lili dan Sasha masuk dengan membawa plastik berisi makanan dan minuman)
Anggi : “Ayoo..ayoo dibuka.” (membuka bungkusan yang ada di dalam plastik)
Lili : “Iya Ukh, dibuka aja. Semoga pada suka,”
Selvi : “Alhamdulillah, dengerin tips sambil makan martabak telor, mantap!”
Wina : “Ditemani jus alpukat juga, ajjiiipp.”
Sasha : “Alhamdulillah kalo pada interest sama martabak n jusnya, hehe.”
Lili : “Hmm, tadi denger-denger ada yang mau bagiin tips, tips apaan tuh?”
Anggi : “Itu loh Ukh, Umi mau kasih tips gimana caranya kita mampu menginjeksi virus merah jambu, hehhe.”
Lili : “Oalaaahh, lagi ngebahas tentang cinta tho. Nyesel deh datengnya terlambat.”
Sasha : “Emang beneran Umi, itu temanya?”
Umi Rina : Mengangguk dan tersenyum. “Yaudah untuk Ukh Sasha dan Ukh Lili yang ketinggalan nanti bisa minjem catatan ke teman-teman yang lain. Sekrang ikut nyimak aja.”
Umi Rina : “Jadi kalo kita lagi terkena Virus Merah Jambu atau singkatan gaulnya Vi-Em-Ji, yang harus dilakukan diam, diam, dan hanya diam. Minta kekuatan sama Allah supaya kita mampu untuk tetap menjaganya dalam keheningan.”
Wina : “ Tapi apa tips Umi sesingkat itu? Hehe.”
Umi Rina : Tersenyum. “Menjaulah dari orang yang kalian cinta demi menjaga hati kalian dan hatinya. Jangan biarkan setan melakukan perayaan pesta besar, akibat kalian gagal memaknai cinta yang benar.”
Lili : “Subhanallah, kata-kata demi menjaga hatiku dan hatinya. Itu dalem Mi. Ana mau kisah cinta ana seperti Ali dan Fatimah. Cinta yang terjaga dalam diamnya, Cinta yang terjaga kesuciannya karena tidak melebihi cintanya pada Allah, dan yang lebih dahsyatnya lagi cintanya Ali kepada Fatimah tidak pernah terbagi dengan wanita lainnya, alias anti poligami, hehehe.”
Anggi : “Iya,bener banget tuh…anti poligami… kalo kita bisa sampe kayak gitu, kayaknya tulus banget yaa itu cinta. Disaat orang-orang ingin selalu mendekat dengan orang yang dicinta tapi justru kita malah menjauhinya. Subhanallah.”
Umi Rina : “Yaaa, Umi harap kalian semakin mengerti dan matang pemahamannya. Disaat kalian belum mampu menikah, maka pandai-pandailah kalian mengelola diri dan menjaga hati. Perbanyaklah puasa untuk meredamnya. Teruslah merasa jatuh cinta kepada Allah setiap harinya. Intinya Allah, Allah lagi dan Allah teruss.”
Wina : “Siap Umi!”
Sasha : “Perbanyak kegiatan-kegiatan positif, siapa tau dengan kita sibuk, bisa jadi lupa sama doi, hehehe.”
Umi Rina : “Ya bener banget, dengan memadatkan kegiatan kita dengan hal-hal yang lebih positif, maka dengan sendirinya juga kita tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan hal-hal yang justru akan mengganggu aktivitas kita yang lain, dan tanpa disadari pelan-pelan hati kita akan dirusak oleh virus tersebut.”
(Tutup Liqo seperti biasanya)
Ditengah perjalanan pulang Lili dan Sasha mampir di warung skoteng yang tak jauh dari rumah Selvi.
Di warung kecil nan sederhana, seorang Ibu setengah baya memakai kerudung ala kadarnya, bergo pendek berwarna merah terang. Wajahnya terlihat kepayahan namun masih bisa tersenyum melayani pelanggan. Terjadilah perbincangan hangat di warung itu.
Emak : “Eh, ada eneng-eneng cantik. masuk neng, sini cobain sekoteng buatan Emak, enak loh...sekoteng buatan Emak, apa lagi minumnya tengah malem gini...asoy dah pokoknya.”
Lili : “Iya Mak, kita mau pesen sekotengnya dong dua, tapi yang satu gak pake roti ya Mak.”
Emak : “Iya neng, siap dah..Nih eneng yang satunya komplit ya sekotengnya?”
Sasha : “Kalo saya jangan pake kacang deh Mak, takut jerawatan. Hehehe.”
Emak : “Yaelah neng, ama jerawat aja pake takut segala. Lagian emang ada hubungannya ya kacang ama jerawat ?”
Sasha :”Iya Mak, saya suka jerawatan kalo abis makan kacang.”
Emak :”Lah, bisa begitu yak..Lah emak mah kagak tau dah kalo kacang bisa bikin si eneng cantik ini bisa jerawatan.”
Sasha :”hehehe…”
Emak :”Neng, Emak nih dulu pas masih muda seumuran eneng-eneng ini ya, Emak tuh jadi kembang desa neng dikampung emak…”
Lili :”Wah..masa sih Mak? Berarti Emak dulu cantik banget ya Mak?” (Sambil senyum-senyum menanggapi cerita si Emak)
Emak :”Lah iya neng. Beuh…dulu nih ya, cowok-cowok tuh yang pada liat emak, langsung dah kelepek-kelepek liat pesona emak. “
Sasha :”Si Emak nih bisa aja. Emak ngerti pesona juga, hehehe.”
Emak :”Ngerti lah, pan begini-begini juga emak pernah sekolah neng. Kalian pasti kenal dong sama Bang Haji Bolot ?”
Lili :”Emang kenapa Mak ?”
Emak :”Dia ntu salah satu cowok yang pernah naksir emak dulu, cuman emak kagak demen dah ama dia, soalnya dulu dia masih kere sih belum jadi artis kayak sekarang gitu dah. Sekarang mah emak nyesel dah pas tau dia udah jadi artis beken gitu, ya biar kata dia di tipi budeg begitu, dulu mah dia ganteng banget neng, mirip kayak artis india gitu dah…si siapa dah tuh kirik rosben ya?”
Sasha :”hahahahaha….Khritik Rosan kali Mak.”
Emak :”Lah itu dah pokoknya, ribet amat dah namanya sih.”
Ditengah-tengah pembicaraan yang cukup membuat ramai suasana warung sekoteng malam itu. Tiba-tiba betapa terkejutnya Sasha ketika melihat ada dua pemuda yang tengah asik mengobrol dipojok warung itu...
Sasha : “Akh Alif??”
Alif : Menengok. “Eh, ada Ukh Sasha. Sama siapa kesini Ukh?”
Sasha : “Oooh ada Kak Satya juga tho.. hmm, ana sama Ukh Lili.”
(Lili sudah berdiri di belakang Sasha, dengan tatapan tak percaya.. dan cukup lama terdiam. )
Sasha : “Ukhti kok malah bengong sih? Ayoo sini duduk Ukh!”
Satya : “Hmmm, ada Ukh Lili.. kalian habis pada darimana?”
(Lili masih bengong, sekilas Alif tersenyum simpul kearah Lili)
Sasha : “Ukh,, Ukhti.. kok malah tambah bengong? Ditanya sama Kak Satya tuh?”
Lili : “Eh,,Oh,, iya.. kita habis liqo dirumahnya Ukh Selvi, Kak.”
Satya : “hhmm.. oh iya, dua hari lagi ada rapat soal rencana kajian kita loh, masih pada inget kan?”
Sasha : “Iyalah Kak, inget.”
Lili : “Akhi, yang ketemu ana di lorong kampus itu kan?”
Alif : “Na’am Ukh.”
Sasha : “Iya Ukh, ini dia Akh Alif yang ana ceritakan tadi siang.”
Satya : “Waduuhh, antum keren Akh, udah jadi pembicaraan para petinggi keputrian kampus, hehhee.”
(Yang diledek hanya diam menunduk tak merespon sepatah katapun..)
Lili : “Kak Satya. Mulai deh becandaanya garing.”
Sasha : “Tau nih.”
Satya : “Hehehe, afwan.”
Sasha : “Akh Alif, gimana kabarnya Putra?”
Alif : “Alhamdulillah, setelah diperiksa sama dokter udah lebih baikan. Kata dokter ternyata emang Putra itu fisiknya lemah dari dia kecil. Jadi kalo lagi kecapean sering jatuh pingsan.”
Sasha : “Emang begitu Akh, kan temen-temen sekelas juga udah pada bilang begitu, makanya akhirnya pada milih didiemin aja”
Alif : “Ana nggak bisa diam gitu aja Ukh, kasian Akh Putra, gimana kalo tiba-tiba ada yang parah.”
Lili : “Subhanallah, semoga Allah membalas kebaikan Akh Alif.” (dengan mata berbinar-binar)
Alif : “Allahumma aamiin. Sudah sewajarnya sesama saudara saling menolong.”
Satya : “Sepupu ana ini jelmaan Santa Clause, baiknya nggak ketulungan.”
Alif : “Mas Satya jangan berlebihan deh, jangan dengerin Ukhti, Mas Satya ini emang suka berlebihan.”
Satya : “Loh, aku ngomong fakta Lif.”
Sasha : “Hmm, sekali-sekali mengakui hal baik didalam diri nggak salah tho Akh?”
Alif : Senyum simpul. “Segala puji hanya untuk Allah, nggak baik kalo terbiasa memuji diri sendiri atau mengakui kalo diri kita itu baik bak malaikat.”
Satya : “Tuh kan makin keren aja dia, hehehe.”
Lili : “Perlu mencontoh Akh Alif nih.”
Sasha : “Panutan baru di LDK, Kak Satya lewat, hehehe.”
Satya : “Hmm,.. ana jadi tersingkirkan nih“
Alif : “Sudah-sudah, sepertinya mulai ngelantur. Ana mau pamit pulang dulu. Mas ikut pulang kan?”
Satya : “Yaiyalah, jangan lupa beliin sekotengnya untuk Laras juga.”
Alif : “Iya Mas, pasti.” (berjalan melangkah ke Ibu Penjual dan memesan sekoteng untuk dibungkus)
Sasha : “Wah, jadi pada mau pulang nih. Yasudah hati-hati dijalan.”
Lili : “Iya, hati-hati dijalan yaa semuanya.”
Satya : Na’am, syukron. Wassalamu’alaikum.”
L & S : “Wa’alaikum salam.”
Hening,, setelah kepergian Satya dan Alif. Dua bersahabat ini tenggelam dalam pemikiran dan perasaannya masing-masing. Yang jelas selintas obrolan singkat di warung sekoteng ini telah menghadirkan kekaguman di hati mereka.
Bareng” : “Ukhti?”
Lili : “Apa Ukh, tafadhol duluan?”
Sasha : “Anti saja yang mulai duluan, kan tadi anti juga bilang mau cerita.”
Lili : “Hmm, gimana yaa mulainya? (menarik napas panjang) Ana sepertinya lagi suka sama seseorang nih Ukh. Love at the first sight.”
Sasha : “Masyaallah, kok sama ya Ukh? Ana juga..”
Lili : “Anti suka sama siapa?”
Sasha : “Malu ah Ukh untuk bilangnya. Lagian ini biar jadi secret aja.”
Lili : “Hmmm, gimana kalo kita sama nulis diselembar kertas, terus nanti hitungan ketiga, kita saling tukeran jawaban?”
Sasha : “Gimana yaa? ana masih nggak yakin Ukh?”
Lili : “Ayolah, Ukh. Kita kan udah sahabatan lama dari jaman SMA, masa masih maen rahasia-rahasian sih?
Sasha : “Tapi Ukh, tadi kita kan baru aja dapet kajian tentang cinta, apa ini nggak nyalahin aturan yaa? bukannya kita seharusnya bisa lebih menjaga?”
Lili : “Iya sih Ukh. Tapi entah kenapa, ana mantep , pengen banget melakukan penyelidikan dulu sama ikhwan itu, nanti setelah ana yakin, mungkin ana akan minta bantuin Umi Rina, untuk memprosesnya.”
Sasha : “Subhanallah, anti mau menikah muda?”
Lili : Mengangguk. “Insyaallah Ukh, itu salah satu impian ana. Karena nggak tau kenapa, ana merasa mantep sama Ikhwan ini, anti sebagai sahabat ana, tolong nanti berikan opininya yaa, hehe.”
Sasha : “Oke, kita mulai nulis sekarang.” (mulai menulis)
Sasha : “Sudah!”
Lili : “Ana juga sudah. Ayo kita tuker kertas. Dihitungan ketiga.”
L & S : “Satuu, duua, tigaa!..” (gaya tuker kertasnya kayak di Film Full House)
(sama-sama bengong)
Lili : “Alif.. kenapa mesti sama, Ukh?”
Sasha : “Yaa sudah ana duga, pasti akan jadi begini akhirnya.” (bergumam lirih)
SEASON 2
Dipagi hari yang cerah siulan burung-burung kecil menambahkan keramaian sekeliling kantin kampus yang masih sangat sepi dan hanya ada beberapa pedagang yang sudah siap dengan stand mereka masing-masing.
Dikantin itu datanglah Lili seorang diri dengan wajah tertunduk muram dan terlihat sangat resah. Ini merupakan pagi pertama Lili dikantin itu tanpa sahabat yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi. Kejadian semalam masih sangat mengganggu fikirannya yang akhirnya memaksa Lili untuk menjauh dari sahabat yang selama ini sangat ia sayangi…
Cukup lama Lili duduk termenung sendiri di sudut kantin kampus. Kenyataan semalam masih jelas terbayang difikirannya. Ia masih tak mengerti mengapa harus Sasha sahabat terbaiknya yang sama-sama menyukai ikhwan yang dia fikir lebih dulu dia temui. Tak lama kemudian, Sasha datang menghampiri Lili di kantin.
Instrumen : (OSt. Endless Love 1)
Sasha : “Assalamu’alaikum, Ukh Lili.”
Lili : “Wa’alaikum salam.”
Sasha : “ Ukhti, ana mau langsung to the point aja, apa Ukhti marah sama ana?”
Lili : Menggeleng. “Nggak Ukh, ana cuma lagi bingung.”
Sasha : “Bingung kenapa? Karena kita sama-sama suka dengan orang yang sama?”
Lili : “Hmmm,, entahlah Ukh. Ana belum bisa menghilangkan perasaan ana ke Akh Alif.”
Sasha : “Iya Ukh, ana paham. Tapi mohon jangan rusak persahabatan kita yang udah terjalin selama ini Ukh, ana akan mengalah.”
Lili : “Masyaallah, ana bukannya mau merusak persahabatan kita Ukh, ana cuma butuh waktu untuk sendiri dulu dan nggak mau untuk diganggu.”
Sasha : “ Tapi ini nggak boleh berlarut-larut Ukh. Yaa, walaupun ana sampai saat ini masih mengagumi Akh Alif, tapi mulai hari ini. Ana akan melupakannya.”
Lili : “Tapi Ukh? Melupakan seseorang yang kita suka itu sulit, dan nggak segampang itu.”
Sasha : Tersenyum. “Gapapa Ukh, sepertinya rasa suka anti ke Akh Alif lebih besar. Ana hanya sekedar kagum tapi anti udah bener-bener cinta, hehehe.”
Lili : “Jangan gitu, ana sendiri juga masih belum yakin sama perasaan ini, ana juga perlu konsultasi mendalam dengan Umi Rina.”
Sasha : “Iya Ukh, emang lebih baik seperti itu, biar nggak salah langkah. Istikharah supaya dapat petunjuk dari Allah.”
Lili : “Ana jadi malu sendiri sama Ukh Sasha.” (ekspresi sedih)
Sasha : “Nggak perlu malu Ukh, dan ngerasa bersalah. Apalagi niat anti itu mulia, ingin menikah muda. Insyaallah Akh Alif orang yang tepat untuk anti.”
Lili : “Syukron Ukh. Sungguh ana semakin merasa nggak enak sama anti, karena udah berpikir kekanak-kanakan.”
Sasha : “Nggak pelu merasa bersalah Ukh, karena memang nggak ada yang salah disini.”
Lili : “Iya Ukh. Jazakillah. Entah ana nggak bisa ngomong lebih banyak lagi.” (Dengan suara bergetar menahan tangis)
Sasha : Mengusap-usap bahu Lili. “La Tahzan Ukh, perasaan kayak gini tuh, kalo nggak bisa mengendalikannya bisa membawa hal fatal. Berdoa sama Allah, Ukh.”
Lili : “Na’am Ukhti.”
Sasha : “Anti masih lama disini? Ana mau pamit karena ana mesti nemenin Bunda ke rumah sakit untuk jenguk Om ana yang sedang sakit.”
Lili : “Iya Ukh. Kalo anti harus buru-buru, gapapa kok. Salam yaa buat Bunda.”
Sasha : “Afwan, ana duluan yaa Ukh, nanti insyaallah akan ana sampaikan salam dari Ukh Lili. Assalamu’alaikum.”
Lili : “Wa’alaikum salam. Hati-hati yaa Ukh.”
Di pelataran rumah sakit. Sasha bersama Bunda berjalan berdampingan. Mata Sasha tertuju pada sesosok pasangan yang sedang berjalan tak jauh di depannya. Sepertinya Sasha mengenal laki-laki itu.
Bunda : “Sha, belok sini sayang.”
Sasha : “Hmmm, Bunda, Sasha mau kesana dulu sebentar yaa, nanti Sasha nyusul aja deh. Gapapa kan Bun?”
Bunda : “Iya sayang. Jangan lama-lama yaa.”
Sasha : “ Siap Bun.” (memberi hormat seperti dalam upacara)
Sasha berjalan meyusuri selasar rumah sakit dengan langkah terburu-buru.. matanya masih terus menyebar ke sekeliling. Mencari sosok pasangan yang tadi dilihatnya. Di depan ruang USG,akhirnya Sasha menemukan mereka. Lututnya lemas, jantungnya berdegup tak karuan, sejurus kemudian dia terduduk dilantai. Pikirannya menerawang jauh, membayangkan segala kemungkinan besar yang terjadi.... (prolog)
Sasha : “Akh Alif.. Siapakah wanita yang bersamanya?” (mencoba bangun duduk dan mendekat ke aeah Alif dan wanita itu)
Berpapasan...
Alif : “Ukh Sasha, sama siapa kesini?”
Sasha : “Sama Bunda, Akh.. Ini..? (wajahnya berpaling ke wanita disebelah Alif)
Alif : “Oooh iya, kenalin ini istri ana, namanya Laras.”
Sasha bengong....
Laras : Mengulurkan tangannya untuk berjabat sambil senyum. “Laras.”
Sasha : “Sasha. Temennya Akh Alif di kampus.”
Alif : “Iya Ras, jadi ini temen sekelas Mas dan kita sama-sama aktif di LDK.”
Laras : “Salam kenal yaa Ukh Sasha.”
Sasha : “Sama-sama Ukhti.. hmm, kalian sudah lama menikahnya?”
Alif : “Nggak kok Ukh, baru sekitar 5 bulan yang lalu.”
Sasha : “Barakallah yaa Akhi dan Ukhti.. semoga tercipta keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.”
L & A : “Aamiin, syukron..”
Sasha : “Afwan, hmm, abis masuk ruang USG, sepertinya ada kabar gembira nih?”
Laras : “Hehehe, iya Ukh, alhamdulillah, sebentar lagi ana akan menjadi seorang Ibu.”
Sasha : “Wah, subhanallah. Sudah berapa bulan Ukh, kandungannya?”
Laras : “Baru sebulan, Ukh. hehe” (tersenyum sumringah)
Sasha : “Alhamdulillah, ikut senang dengernya Ukh.”
Laras : “Iya Ukh, ana juga nggak menyangka Allah akhirnya mendengar doa kami untuk menjadi orangtua.”
Alif : “Alhamdulillah yaa Ras, Mas juga nggak nyangka.”
Sasha : “Hmm, yasudah Akh, ana pamit dulu yaa, ditunggu Bunda soalnya.”
Alif : “Iya tafadhol, Ukh.”
Laras : Cipika-cipiki ke Sasha. “Afwan, assalamu’alaikum.”
Sasha : “Wa’alaikum salam.”
Sasha melangkah pelan, masih tak menyangka dengan peristiwa yang dialaminya barusan..
Bunda : “Sha, kamu kemana aja sih? Bunda cariin.”
Sasha : “Iya Bun, tadi Sasha liat ada teman Sasha disini. Yaudah yuk kita ke kamar inapnya Om.”
Bunda : “Hmm, udah selesai jam besuknya, Sha. Ternyata Om masih ada pemeriksaan. Kamu sih kelamaan.”
Sasha : “Yaaah, Bunda. Maafin Sasha yaa, karena nggak bisa nemenin Bunda jenguk Om.”
Bunda : “Iya gapapa. Tadi Bunda juga udah titipin salam ke Tante sama Om.”
Sasha : “Emang nggak bisa ke ruang inap Om, Bun?”
Bunda : “Nggak bisa. Bunda juga tadi dapet telpon, mau ada urusan mendadak mesti ke rumah Tante Mira.”
Sasha : “Yaaah.. makin ngerasa nggak enak. Sekali lagi maafin Sasha yaa Bun. Soalnya tadi urgent banget.”
Bunda : “Iya sayang. Gapapa kok.” (sambil mengusap-usap kerudung Sasha)
Disamping Masjid kampus, Sasha sedang menunggu kedatangan Lili, sahabatnya. Mondar-mandir bak setrikaan yang sedang bertugas melicinkan pakaian. Perasaan gundah menyelimutinya. Semalam Lili menelpon Sasha, katanya siang ini ia ingin memberitahukan sesuatu. Sesuatu yang sepertinya Sasha tahu tentang apa itu...
Instrumen : (Endless Love 2 di puter 3kali)
Lili : “Assalamu’alaikum Ukhtiiii.” (jabat tangan plus cipika-cipiki)
Sasha : “Wa’alaikum salam. Ada apa Ukh, nada ditelpon semalem, sepertinya anti sedang gembira.”
Lili : “Iya nih Ukh, ana udah konsul sama Umi Rina kemarin soal Akh Alif, alhamdulillah beliau dukung, kalo ana emang udah mantep dan orangtua juga dukung.”
Sasha : “Terus orangtua anti giman responnya?”
Lili : “Mereka sih mendukung aja selama ana yakin. Lagian Ibu juga udah tau kalo ana tuh bercita-cita ingin nikah muda.”
Sasha : “Hmmm.. Aduh gimana yaa bilangnya?”
Lili : “Bilang apa Ukh?”
Sasha : “Bilaang..bilaang..bilaang.. kalo...”
Lili : “Aah lama nih Ukhti, gimana kalo anti liat dulu proposal yang nanti ana mau kasih ke Akh Alif.” (menyodorkan map)
Lili : “Gimana Ukhti? Kira-kira ada yang kurang nggak?”
Sasha : “Hmmm, nggak kok Ukh.. tapi ada yang ingin ana sampaikan ke anti. Tapi please, semoga anti bisa terima ini.”
Lili : “Emang ada apa Ukh Sasha?”
Sasha : “Hmmm.. hmmm..hmmm.. Akh Alif. Akh Alif ituu..
Lili : “Kenapa Ukh? Kok jadi gugup gitu? Ngomong aja Ukhti.”
Sasha : “Akh Alif sudah menikah, Ukh.” (bicara dengan nada cepat)
Lili : “Masa? Ah anti bercanda nih? Nggak mungkin Akh Alif sudah menikah. Ana nggak percaya.”
Sasha : “Tapi itu kenyataannya Ukh. Ana kemarin liat sendiri....” (dipotong pembicaraannya)
Lili : “Nggak mungkin. Apa anti masih nggak rela? Kalo ana melangkah sejauh ini?”
Sasha : “Astagfirullah’al-adzim, Wallahi, ana ikhlas kalo nantinya anti bersanding dengan Akh Alif, tapi nyatanya ana ataupun anti nggak bisa milikin dia.”
Tubuh Lili lemas, ia terduduk di bangku dengan ekspresi sedih, matanya menerawang jauh. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Hening... (Prolog)
(Sasha mengusap pundak Lili pelan, berusaha menenangkan)
Lili : “Apa benar yang anti bilang barusan? Sungguh ana masih nggak percaya.”
Sasha : “Iya Ukh, ana benar-benar tidak berbohong.”
Lili : “Bagaimana ana bisa mempercayai perkataan anti? Jangan-jangan ini adalah salah satu trik anti untuk menghalangi rencana ana.”
Sasha : “Masyaallah! istighfar Ukhti.. Wallahi, ana nggak ada maksud seperti itu. Ana sayang Ukhti. Anti sahabat terbaik ana, nggak mungkin ana tega ke anti.” (menangis)
Lili : “Tapiiii...”
Sasha : “Afwan, Ana mohon Ukh, jangan sampai rasa cinta anti ke makhluknya Allah, membuat anti gelap mata, dan tidak mampu berpikir jernih...”
Lili : “Astaghfirullah’al-adzim.. maafkan ana Ukh.. Ana sungguh udah keterlaluan sama anti. Ana jahat.” (menangis sambil memeluk Sasha)
Sasha : “Iya Ukh, ana paham perasaan anti. Pasti rasanya sakit. Kalo anti masih perlu bukti real dan masih meragukan ucapan ana, Insyaallah, akan ana bantu buktikan ucapan ana didepan anti. Biar anti benar-benar percaya dan yakin.”
(Sudah melepaskan pelukan; memegang pundak Lili dengan dua tangan kemudian menatap tajam ke arah Lili)
Doni : “Wah..wah.. ada adegan apa nih Ukhti-ukhti?” (datang menghampiri Sasha dan Lili)
Randi : “Iya, kayanya ada something nih.”
(Lili dan Sasha mengelap airmatanya)
Sasha : “ Aduuh akhi, mau tau aja urusan wanita. Ada apa kesini, mengganggu aja.”
Doni : “Dicari sama Bang Satya dan Akh Alif tuh.”
Randi : “Iya, mereka mau tau laporan dari seksi acara, katanya mau ada yang didiskusikan.”
Sasha : “Mereka ada dimana? Di Mabes?”
Randi : “Yohaaa di Mabes.”
Lili : “Kalian di utus langsung sama Kak Satya?”
Doni : “Nggak juga sih. Kita inisiatif mau cari kalian. Soalnya mereka juga keliatannya masih sibuk.”
Randi : “Jadilah kita sukarelawan, hehehe.”
Sasha : “Kumat lebaynya.”
D & R : ketawa
Randi : “Ayo, cepetan kita ke Mabes.”
Sasha : “Yaudah kalian duluan, nanti kita nyusul.”
Doni : “Langsung jalan yaa. nggak pake mampir-mampir kemana dulu.”
Sasha : “Nggak janji yaa Akh.”
Randi : “Jitak nih, kalo pake ngelayap dulu?”
Lili : “Huhuhu, serem! Iya Akhi kita langsung ke TKP kok. Udah sana jalan. Ana ada yang mau diomongin dulu sama Ukh Sasha.”
(Randi dan Doni pergi meninggalkan Lili dan Sasha)
Sasha : “Anti masih ada lagi yang mau diomongin sama ana?”
Lili : “Ana mau nanti anti buktikan ucapan anti.”
Sasha : senyum. “Pasti Ukh, insyaallah.”
Di sebuah ruangan kecil, tempat berkumpulnya para aktivis dakwah Kampus yang berjuang untuk tetap teguh mensyiarkan ajaran islam dengan segala keterbatasan yang mereka miliki namun semangat itu tetap membara. Dan disini pulalah, harapan mulia itu akan pupus... (prolog)
L & S : “Assalamu’alaikum.”
Satya : “Wa’alaikum salam. Ayo pada masuk.”
Sasha : “Ada apa Kak?”
Satya : “Ana mau tau gimana perkembangan acara dan soal sponsor?”
Lili : “Alhamdulillah semua baik-baik aja. Dan masih bisa tercover dengan baik.”
Sasha : “Apa perlu kita bikin laporan tertulisnya?”
Satya : “Hahaha, nggak perlu kok Ukh. Ana cuma mau mastiin aja.”
Alif : Datang menghampiri . “ Gimana Mas? Udah clear semuanya masalah sponsor?”
Satya : “Alhamdulillah. Mereka emang udah expert-lah, nggak diragukan lagi. Jadi semuanya udah beres.”
Alif : “Syukurlah kalo begitu.”
Sasha : “Oh iya, gimana kabarnya Ukh Laras, Akh?”
Alif : “Alhamdulillah sehat, calon bayi kami juga sehat.” (Suara Petir)
Lagu : “Buka Mata Buka Hati (Opick)” (Intronya aja diulang 5kali)
Satya : “Waah, Sasha udah ketemu sama Laras?”
Sasha : “Iya Kak, kemaren ana ketemu Akh Alif dan isterinya.”
Alif : “Iya Mas, ana juga nggak nyangka kalo bakal ketemu sama Ukh Sasha di rumah sakit.”
Sasha : “Apa benar, nggak ada lagi yang mau ditanyain? Kalo iya, kita mau pamit. Soalnya masih ada urusan nih Kak.”
Satya : “Iya udah kok. Kalian kallo mau pergi juga udah boleh kok.”
Alif : “Syukron yaa Ukhti.”
Sasha : “Afwan Akh, oh iya, titip salam yaa buat Ukh Laras.”
Alif : “Iya Ukh, Insyaallah nanti akan ana sampaikan. Syukron.”
Keluar dari Mabes..
Lili : “Makasih yaa sahabatku.. ana nggak tau, bakal jadi apa ana kalo nggak ada anti. Seandainya proposal ini sampai berada di tangan Akh Alif atau sampai Akh Alif tau wacana ana yang ingin mengajukan proposal ini, ana pasti malu.” (menangis)
Sasha : “La Tahzan, innallaha ma’ana, Ukhti.. ana yakin anti kuat. Ini Cuma ujian ditengah masa-masa penantian anti. Ana yakin kelak anti akan mendapatkan yang lebih baik lagi.”
Lili : “Syukron Ukh.. Tapi untuk saat ini, ana ingin sendirian dulu.”
Sasha : “Iya Ukh.. tapi nggak boleh berlarut-larut yaa.”
Lili : Iya insyaallah nggak kok Ukh.”
Berjalanlah Lili ke Taman belakang Kampus, ia ingin sendiri, ia ingin mencari ketenangan dan sebentar saja menghilang pergi dari keramaian hiruk-pikuk Kampus. Sesampainya disana...
Lagu : “Moon Light (Yiruma)”
Lili : Mengeluarkan korek api kemudian membakar map proposal ditangannya (menangis) “Mengapa harus seperti ini? Bagiku in terlalu rumit.. terlalu sulit untuk dicerna.. Aku, Kau, Dia, dan Dirinya.. berakhir dengan kau bersama dirinya.. Aku tidak disandingkan bersama kau, mungkin karena Allah masih menjaga aku dan dia.. yaa dia sahabatku Shasa..” (Bicara dalam hati)
Ditengah suara tangisnya yang kian pecah, datanglah sekawanan tim penghibur.. sahabat-sahabat perjuangan didalam dakwah ini.. Dakwah Kampus.. masa-masa perjuangan yang menggelora...
Bareng” : “Assalamu’alaikum.” (dengan suara yang rame)
Lili : “Wa’alaikum salam. Wah ada apa rame-rame kesini? Ana sedang sedih. Malu diliatnya, kusut udah kayak baju yang nggak disetrika.”
Anggi : “Justru karena anti sedang sedih, makanya kita mau datang menghibur..”
Wina : “Kita mau kasih cokelat.” (sambil menyodorkan cokelat)
Selvi : “Kita mau kasih balon.” (menyodorkan balon)
Sasha : “Kita mau kasih kekuatan.. dan selalu berada disisi anti.”
Anggi : “Membuat anti bangkit kembali sekalipun kita nggak pernah tau, apa problem anti.”
Selvi : “Anti sekuat power puff girl, pasti bisa ngatasin ini.”
Sasha : “Temen-temen akan selalu setia mendampingi anti..”
Anggi : “Semaangaaaattttt karena Allah.”
Wina : “Kita nggak butuh cerita anti tentang segala masalah anti. Kita cuma mau memberi dukungan.”
Lili : “Subhanallah.. sungguh ana terharu.. terimakasi sahabat-sahabatku.. semoga Allah membalas kabaikan kalian. Ana udah nggak sedih lagi kok.. kan ada kalian semua.”
Semuanya berpelukan, rasa haru menjadi satu.. semuanya saling menguatkan satu diantara yang lain, memberikan support disaaat ada yang rapuh dan terjatuh.. itulah indahnya ukhuwah yang terjalin dalam ikatan persaudaraan atas nama Allah.. Setidaknya virus merah jambu ini, telah membawa Lili menjadi sosok yang lebih dewasa lagi di kemudian hari.. dan membuatnya menjadi orang yang lebih bijak dalam memaknai kehidupan... “Kau tahu, hakikat cinta adalah melepaskan.. sekmakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya.. percayalah , jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang. Ia akan kembali sendiri padamu.”
THE END





Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar