Macam Macam cinta
Syaikh Utsaimin رحمه الله
Cinta itu dua macamnya:
Pertama:
“Cinta Ibadah” :
Yaitu: “Cinta yang mewajibkan ketundukan dan pengagungan, pengagungan hati manusia kepada yang yang dicinta, yang menuntutnya melaksanakan apa yang diperintahkan oleh yang dicinta dan meninggalkan apa yang larang olehnya, dan cinta ini khusus bagi Allah, maka barangsiapa mencintai selain Allah bersama Allah dengan cinta ibadah ini, maka dia “MUSYRIK” Syirik Akbar, dan Para Ulama menyebutnya dengan “Cinta Khusus”
Kedua:
“Cinta Yang Asalnya Bukan Ibadah”:
Dan ia terbagi lagi beberapa macam:
1. Cinta karena Allah;
penyebab atau pembawa cinta ini ialah “kecintaan kepada Allah”, artinya: “Karena sesuatu itu dicintai Allah Ta’ala (maka diapun mencintainya) , baik itu pribadi manusia seperti: “Para Nabi, Para Rasul, Shiddiqin, syuhada’, dan shalihin”, atau dalam bentuk amal perbuatan seperti: “Shalat, zakat, amal-amal kebaikan, atau yang lain”, dan macam ini mengikuti macam yang pertama yaitu : “Cinta karena Allah”.
2. Cinta kasih dan sayang;
Seperti cinta kepada anak, anak-anak kecil, orang-orang lemah, dan orang-orang yang sakit.
3. Cinta penghormatan dan pemuliaan dan bukan ibadah;
Seperti mencintai Ayah, guru, dan orang-orang tua yang baik.
4. Cinta qodrat (Tabiat);
Seperti mencintai makan, minum, pakaian, kendaraan, dan tempat tinggal.
Dan yang paling utama dari jenis-jenis cinta ini ialah yang pertama (Cinta karena Allah), dan selebihnya ialah “cinta yang mubah”, kecuali bila diikuti oleh sesuatu yang bernilai ibadah maka menjadi ibadah, misalkan seseorang mencintai Ayahnya cinta penghormatan dan pemuliaan, bila cinta ini di ikuti (oleh niat) beribadah kepada Allah yaitu dalam rangka “berbakti kepada ayahnya” maka jadilah cinta itu “ibadah”, begitu pula cinta kepada anak cinta kasih sayang, bila di ikuti dengan (niat) melaksanakan perintah Allah untuk mendidik anak ini, maka cinta (yang semula di dorong) kasih sayang menjadi “ibadah”.
Begitu pula “Cinta Yang Bersifat Qadrat” seperti makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal, bila itu diniatkan untuk membantunya beribadah maka jadilah ia “ibadah”, karenanya “Di cintakan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم (dari dunia ini) wanita dan minyak wangi” (HR.Ahmad dan Nasa’i, hasan dihasankan Albani), dicintakan kepada beliau wanita, sebab ini tuntutan qodrat, dan bila perkara dunia ini dipergunakan dalam rangka “ibadah” maka menjadi “ibadah pula”.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
[إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى]
“Sesungguhnya segala macam amalan itu adanya dengan niat, dan setiap orang hanya memperoleh apa yang diniatkannya.” (Muttafaq ‘Alaih)
Para Ulama berkata:
“Apa yang kewajiban itu tidak menjadi sempurna melainkan dengannya maka iapun wajib”.
“Segala sarana memiliki hukum seperti tujuannya”
Dan ini perkara yang telah disepakati.
(di sadur dari “Alqaulul Mufid”)





Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar