Segala puji untuk Allah, Yang menciptakan manusia dan tidak
membutuhkan mereka, Yang menciptakan mereka agar mau tunduk dan
mengagungkan-Nya, Yang segala manfaat dan madharat ada di tangan-Nya.
Semoga pujian dan keselamatan terlimpah kepada Nabi pilihan, sang
kekasih ar-Rahman, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Amma
ba’du.
Saudaraku, menjalani kehidupan di alam
dunia adalah sebuah cobaan dari Rabbul ‘alamin. Allah ta’ala berfirman
(yang artinya), “Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji
kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk:
2). Untuk itulah, sebaik-baik insan adalah yang senantiasa menghadirkan
perasaan bahwa Rabbnya sedang mengujinya, dengan apapun yang sedang
dialaminya; kesenangan, musibah, ataupun terjerembab dalam dosa.
Apakah dia bisa menjadi seorang hamba yang merendahkan diri dan
mengagungkan Rabbnya dengan penuh rasa cinta kepada-Nya, yaitu dengan
mempersembahkan ibadahnya hanya untuk Dia semata. Sebagaimana ayat yang
selalu kita baca setiap harinya, di setiap raka’at sholat yang kita
lakukan. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. ‘Hanya kepada-Mu –ya Allah-
kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.’ Dari
situlah, maka segala bentuk kejadian yang menimpanya semestinya dapat
menjadi sarana untuk menggapai ridha dan cinta-Nya.
Tatkala kenikmatan menyapa, maka segenap rasa syukur pun dia
panjatkan kepada-Nya. Tatkala musibah melanda dan menyayat hati, maka
ridha dengan takdir dan bersabar menerima kenyataan adalah ibadah yang
akan menghiasi hati, lisan, dan anggota badannya. Demikian pula, ketika
hawa nafsu dan bujukan syaitan memperdaya dirinya sehingga dia pun
menerjang larangan atau melalaikan kewajibannya, maka kesejukan taubat
dan air mata penyesalan akan menghampiri jiwanya.
Saudaraku, berapa banyak kenikmatan yang telah dicurahkan Rabbul
‘alamin kepada kita? Entah berapa banyak, tak ada seorang profesor pun
yang yang bisa menjawabnya. Namun, lihatlah keadaan dan tingkah laku
kita… Betapa sedikit rasa syukur kita kepada-Nya, dan betapa banyak
kemaksiatan yang kita lakukan kepada-Nya. Orang bilang, ‘air susu
dibalas air tuba’. Alangkah buruknya, akhlak kita kepada-Nya… Kita
mengaku muslim (orang yang pasrah), namun betapa sering kita membantah
aturan dan kebijaksanaan-Nya. Kita mengaku beriman, namun betapa sering
perintah dan larangan-Nya kita ingkari serta berita-Nya yang kita
abaikan. Aduhai, apakah kita merasa mampu membahayakan Rabb yang
menguasai jagad raya, dengan kedurhakaan kita kepada-Nya? Demi Allah,
hal itu tidaklah bisa membahayakan-Nya! Kamu ini hidup untuk apa?!
Allah berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia
kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)
Saudaraku, banyak orang mengira dengan maksiat mereka akan meraih
bahagia. Padahal, sebaliknya. Kebahagiaan sejati tak pernah bisa diraih
dengan kedurhakaan kepada-Nya. Seorang profesor yang mulia Syaikh
Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah beberapa waktu lalu
–dalam ceramahnya di Masjid Istiqlal Jakarta- menyampaikan nasehat yang
sangat indah untuk kaum muslimin di Indonesia. Beliau berkata,
‘as-Sa’aadah biyadillah, wa laa tunaalu illa bi thaa’atillah’.
Kebahagiaan itu ada di tangan Allah, dan ia tak akan diraih kecuali
dengan taat kepada Allah. Sebuah kalimat yang ringkas, namun sarat akan
makna! Semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-baik balasan atas
nasehat dan arahannya untuk kita…
Saudaraku, demikianlah kenyataannya. Tak ada setetes pun kebahagiaan
yang hakiki yang akan diperoleh seorang hamba yang lemah dan penuh
dengan kekurangan kecuali dengan cara tunduk dan taat kepada Rabb yang
menciptakannya. Oleh sebab itu, Allah mengingatkan segenap insan di alam
dunia ini bahwa keberuntungan dan kebahagiaan hanya diberikan kepada
mereka yang benar-benar taat dan mengabdi kepada-Nya. Allah berfirman
(yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta
saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam
kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3). Allah juga mengingatkan (yang artinya),
“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan
tidak akan binasa.” (QS. Thaha: 123).
Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang dibebaskan dari
neraka, dan dimasukkan ke dalam surga maka sesungguhnya dia telah
beruntung/sukses. Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan sekedar
kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran: 185). Allah ‘azza wa jalla juga
menyatakan (yang artinya), “Adapun barangsiapa yang merasa takut akan
kedudukan Rabbnya dan menahan dirinya dari memperturutkan hawa nafsunya,
maka surgalah tempat kembalinya.” (QS. an-Naazi’aat: 40-41)
Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Tidak ada kehidupan
bagi hati, tidak juga kesenangan dan ketenangan, kecuali dengan cara
mengenal Rabb, sesembahan, dan pencipta dirinya. Yaitu dengan mengenal
nama-nama, sifat-sifat, serta perbuatan-perbuatan-Nya. Di samping itu
semua, dia menjadikan Allah sebagai sesuatu yang lebih dicintainya di
atas segala-galanya. Oleh sebab itulah, usaha yang dilakukannya –di alam
dunia ini – adalah untuk melakukan perkara-perkara yang dapat
mendekatkan diri kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya yang mereka itu
semua adalah makhluk-Nya.” (Syarh Aqidah Thahawiyah)
Maka berbahagialah orang yang diberikan taufik oleh Allah untuk
mengenal Islam dan mencintainya, mengenal Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan mengikuti ajarannya, serta menjadikan Allah sebagai
satu-satunya sesembahan dan tempat bergantungnya hati baginya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan bisa merasakan
lezatnya iman, yaitu orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, ridha Islam
sebagai agama, dan Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagai
rasul.” (HR. Muslim dari al-Abbas bin Abdul Muthallib
radhiyallahu’anhu).
Lezatnya keimanan, bukan diraih dengan mencicipi berbagai macam resep
masakan di berbagai restoran dan rumah makan. Apalagi dengan melakukan
perkara-perkara yang mengundang murka Allah yang sangat keras
hukumannya. Hal ini menunjukkan kepada kita –wahai saudaraku yang mulia,
semoga Allah menyelamatkan kita dari pedihnya neraka- bahwa kebahagiaan
yang bersemayam di dalam dada dalam bentuk ridha kepada takdir-Nya,
selalu merasa di bawah pengawasan-Nya, ingin menggapai cinta dan
ridha-Nya, berharap dan takut kepada-Nya, merupakan kelezatan tiada tara
yang menghiasi hati orang-orang yang mengenal keagungan Rabbnya.
Kelezatan yang bisa diraih dengan taat kepada-Nya. Mereka itulah
sesungguhnya orang yang benar-benar hidup di alam dunia ini, dengan
cahaya iman dan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.
Adapun orang-orang ‘tampak berbahagia’ di alam dunia yang fana ini,
sementara mereka adalah para pembangkang dan pembantah aturan-Nya, maka
sesungguhnya kebahagiaan mereka adalah kesenangan yang semu dan akan
berakhir dengan kesengsaraan yang tiada tara. Aduhai, betapa malang
orang yang menjual kebahagiaan hakiki dan abadi dengan kesenangan yang
semu dan sementara!
Mereka tersenyum, tertawa, dan penuh keceriaan, padahal mereka
bergelimang dengan dosa dan kemaksiatan kepada Rabbnya. Mereka tampakkan
kepada manusia seolah-olah mereka bahagia dengan kemaksiatannya. Mereka
gambarkan kepada manusia bahwa dengan meninggalkan perintah Allah dan
rasul-Nya akan memberikan jalan pintas bagi siapa saja untuk meraih
kepuasan dan kenikmatan yang luar biasa. Subhanallah, Maha suci Allah…
alangkah buruk perbuatan mereka. Mereka rela menjual agamanya demi
mendapatkan secuil kenikmatan dunia. Yang dunia itu di sisi Allah tidak
lebih berharga daripada sehelai sayap nyamuk! Allahu akbar!
Maka ingatlah selalu wahai saudaraku –semoga Allah meneguhkan diriku
dan dirimu di jalan-Nya- kehidupan kita di dunia ini akan berakhir
dengan kematian dan bersambung di alam kubur dan hari kebangkitan. Akan
ditanyakan kepada kita ‘siapakah sesembahanmu, apa agamamu, siapakah
nabimu’. Apakah akan kita jawab nanti bahwa sesembahan kita adalah hawa
nafsu, agama kita adalah kebebasan ala binatang, dan nabi kita adalah
para wali-wali syaitan? Ya Allah, lindungilah kami dari pedihnya
hukuman-Mu…
Lantas, pada saat ini ketika kaki kita masih menginjakkan bumi yang
Allah ciptakan, paru-paru kita masih menghirup udara yang Allah
ciptakan, tenggorokan kita masih terbasahi dengan air yang Allah
alirkan, kulit kita masih merasakan hangatnya sinar matahari yang Allah
ciptakan, mata kita masih bisa memandang berkat adanya cahaya yang Allah
ciptakan, jantung kita pun masih berdegup mengalirkan darah yang Allah
ciptakan, lidah kita masih bisa bergerak dan melontarkan kata-kata yang
semuanya pasti Allah dengarkan, maka adakah di antara kita yang
membusungkan dadanya di hadapan manusia dan berkata, “Ya Allah, aku
tidak membutuhkan-Mu selama-lamanya!”?
Tentu saja, tidak ada orang sebodoh itu yang mampu melakukannya.
Namun, kenyataannya tingkah laku dan perbuatan kita menunjukkan betapa
cueknya kita terhadap aturan dan bimbingan-Nya. Seolah-olah tidak ada
gunanya Allah mengutus rasul-Nya, tidak ada gunanya Allah turunkan
kitab-Nya, dan tidak ada gunanya Allah ciptakan surga dan neraka… Karena
kita telah disibukkan dan tenggelam dalam kedurhakaan kepada-Nya…. Dan
kita jadikan umur kita habis untuknya, cinta dan benci bukan karena-Nya,
memberi dan tidak bukan karena-Nya, diam dan bergerak juga bukan
karena-Nya. Bahkan, yang lebih jelek lagi… kita telah memandang
keburukan dan dosa kita sebagai kebaikan dan jasa, na’udzu billahi min
dzaalik. Afaman zuyyina lahu suu’u ‘amalihi fa ra’aahu hasana..
Maka ketahuilah saudaraku, bahwa kita –tanpa terkecuali- sangat
membutuhkan-Nya, di mana saja dan kapan saja kita berada. Karena
sesungguhnya langit dan bumi serta segala sesuatu yang di dalamnya
adalah berada di bawah kekuasaan dan aturan-Nya. Apa saja yang Allah
kehendaki pasti terjadi, dan apapun yang tidak Allah kehendaki tidak
akan pernah terjadi. Karenanya taufik adalah di tangan-Nya, bukan di
tangan kita… maka mintalah kepada-Nya semoga Allah mencurahkan taufik
dan bimbingan-Nya kepada kita dan tidak menelantarkan kita dalam
kebingungan dan dibiarkan hidup tanpa bantuan dari-Nya. Apakah engkau
wahai raja, merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai orang
kaya, merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai tentara, merasa
tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai orang yang rupawan dan
berparas jelita merasa tidak butuh kepada-Nya? Apakah engkau wahai para
da’i, merasa tidak butuh kepada-Nya?
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin





0 komentar:
Posting Komentar