Hidup
Bukan Seperti Lampu Aladin
Tak ada kata menyerah dalam belajar dan berkarya. Tak ada kata
putus asa untuk belajar sesuatu yang baru. Tak ada kata mundur untuk mencapai
kemajuan. Terus bergerak dan berusaha sebisa mungkin, maju terus pantang
mundur! Ayo bangkitlah!
Betapa
banyak orang yang biasa-biasa saja pada awalnya, tapi karena semangatnya tinggi
dan terus berusaha dan berjuangan menggapai apa yang dicita-citakan, pada
akhirnya kesuksesan diraihnya. Apapun kata orang, bukan
halangan untuk maju. Apapun pendapat orang, bukan batu sandungan yang mesti
ditakuti. Apapun caci maki, hinaan orang atau mungkin ” dikecilkan ” atau ”
disalahartikan ” bukan hantu yang menakutkan. Maju terus dan jangan
menyerah!
Kerikil-kerikil tajam atau duri-duri yang berserakan sepanjang
jalan kalau memang itu ada dihadapanmu, jangan mundur! Kalau perlu berdarah dan
terluka, jangan takut. Darah dan luka adalah asam garam kehidupan. Ayo bangkit
terus dan bergerak maju!
Ibarat
pohon yang semakin tinggi, angin yang menghempasnya juga semakin kencang,
bahkan bukan angin, namun sudah menjadi badai! Bila akarnya tidak kokoh dan
kuat, maka pohon itu akan terhempas badai, patah, tumbang dan hencur
berantakan.
Akar
yang kokoh dan kuat itu adalah iman, energi iman akan membuat kokoh dan
kuatnya seseorang dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan ujian hidup. Iman yang kokoh dan kuat ibarat batu karang ditengah hempasan
badai laut yang ganas, dia akan tetap berdiri, tak bergeser seincipun!
Bukan akhir perjalanan yang penting, jadi apapun kamu bukan
masalah, tapi proses dalam perjalanan itu yang penting. Jangan menyerah dalam
perjalanan, betapapun sulit dan melelahkan perjalanan tersebut. Tiada
kesuksesan bila kamu tetap diam dan pasif, tidak melangkah dan tidak bergerak.
Yang sudah berjalan jauhpun belum tentu sampai ke tempat tujuan,
apa lagi yang tidak pernah berjalan, tidak pernah bergerak. Hidup penuh dengan
tantangan, ujian dan cobaa! Emas berlian yang dipakai dalam mahkota para raja
dan ratu, mulanya adalah bongkahan, yang kemudian digosok, diasah, dibakar,
dipanaskan dan sebagainya.
Coba lihat genteng yang di atas rumah, itu awalnya adalah tanah
yang injak-injak manusia kebanyakan, lalau mengapa bisa di atas? Genteng yang
di atas rmah sudah mengalami cobaan, ujian, rintangan, hambatan dan lain
sebagainya. Lihat saja bagimana tanah sebelaum menjadi genteng.
Tanah
itu dicangkul, diinjak-injak, diaduk-iaduk dengan air, dibanting-banting,
dicetak, lalu di bakar, setelah itu dijemur. Masih belum selesai, dibawa ke
matrial, diperjualbelikan, dan ketika akan naik ke atas setelah mengalami
berbagai macam tahap, masih ada yang pecah saat di lemparkan ke atas, saat
dijemur retak-retak, saat diangkut dan bergesekan dengan sesama genteng. Jadi “memang tidak semua genteng bisa sampai ke atas rumah! Hanya
genteng yang sudah teruji yang bisa sampai ke atas!”
Begitu juga manusia, untuk sampai di puncak atau di atas, maka
yang tak tahan menghadapi berbagai macam hambatang, rintangan, ujian, cobaan,
hinaan, caci maki, sumpah serapah dan seterusnya ya akan tetap di bawah dan
atak akan pernah sukses, sukses dalam arti sempit maupun sukses dalm arti luas.
Pilihannya sekarang, apakah ingin menjadi manusia sukses? Jika jawabannya “iya”,
maka harus siap menghadapi berbagai macam cobaan, ujian ataupun hinaan. Tak ada
jalan kesuksesan semulus jalan tol! Jalan tol saja masih ada kelokannya, masih
bisa macet, bahkan bisa macet total.
Dan
ibarat di jalan tolpun, yang jalan sudah begitu mulus, kecelakaan yang
menimbulkan tabrakan maut tak kurang-kurangnya. Jadi di manapun perjalanan
kehidupan ada saja rintangannya, ada saja hambatannya, ada saja ujiannnya, ada
saja hinaannya, ada saja orang-orang yang tak suka, iri hati, dengki dan lain
sebagainya. Kebanyakan manusia memang seringkali, ini sering saya ungkapkan,senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang! Itu
karena banyaknya penyakit hati yang ada di dalam diri manusia.
Bila ada orang sukses, bukannya senang, tapi susah dan mengunjingkannnya,
bukannya ikut senang dan mendorongnya untuk tetap maju dan berusaha terus dalam
karya. Begitulah kebanyakan manusia, coba saja lihat, jika ada berita buruk
lebih banyak dibaca di media cetak atau media elektronik. Namun bila ada berita
baik mengenai seseorang, berita tersebut tak dibaca.
Kembali
ke kerja keras untuk menuju sukses, itu sudah menjadi semacam syarat umum yang
harus dimiliki oleh manusia, karena tak ada orang yang sukses hanya
hasil “ongkang-ongkang” kaki sambil duduk di kursi goyang dan sambil
manggut-manggut, lalu kesuksesan itu datang, atau tiba-tiba saja
uang turun dari langit! Tak ada itu. Atau seperti ceritanya Aladin dengan lampu
wasiatnya, digosok-gosok, lalu ke luarlah jin dan Aladin minta apa saja
diberikan!
Hidup ini bukan seperti lampu Aladin, tapi butuh perjuangan.
Jangankan yang belum ada, yang sudah ada di atas piring saja kalau tak
ada usaha untuk mengambilnya dan menggiringnya ke mulut, maka proses makan itu
tak akan terjadi. Jadi semuanya perlu usaha, perlu ikhitiar, perlu gerak.
Jangankan manusia biasa, para nabi dan rosul yang jelan-jelan
manusia pilihan Tuhan, mereka bukan diam saja menungguh wahyu turun, tapi
mereka juga bekerja. Bahkan Rosulullah SAW menggembelakan kambing ketika masih
kecil, sudah ikut berdagang menjelang remaja dan menjadi “bisnismen” ketika
menjadi pemuda. Dan ketika menjadi rosulpun Beliau tidak lantas berdiam diri
saja, tapi ikut berperang, ke pasar, ikut mengangkut bata saat pembangunan
masjid.
Jadi
mengapa takut berusaha? Mengapa takut tak berhasil? Kesuksesan akan tercapai
bila usaha dilakukan semaksimal mungkin dengan diringi doa tentunya, karena
bagaimanapun manusia hanya punya ikhtiar, tapi yang
menentukan tetap Tuhan. Ayo terus berjuang dalam hidup ini,
tak ada kesuksesan tapi perjuangan.
Kalau
kata Muhammad Iqbal, seorang Philosof dari Pakistan” setetes embun yang
dikumpulkan oleh tangan sendiri terasa lebih manis” Jadi usaha itu
penting, proses menjadi orang sukses itu lebih menyenangkan, karena sesuatu
yang didapat dengan susah payah biasanya lebih dihargai ketimbang sesuatu yang
didapat dengan cara mudah dan hasil pemberian orang lain. Hasil keringat
sendiri lebih indah ketimbang sesuatu karena diberikan orang lain.
Atau
masih takut atas hinaan orang karena telah berbuat sesuatu, kalau takut mari
perhatikan pepatah Jerman yang berbunyi” Orang yang suka memfitnah
mempunyai setan di atas lidahnya dan orang yang mendengarkan fitnah mempunyai
setan di atas kupingnya” Begitu jelas bunyi pepatah ini, jadi
mengapa takut pada fitnahan orang, mengapa harus mendengarkan fitnahan orang,
kalau kata anak Betawi” Emanya Gue Pikirin”, ya EGP saja terhadap berbagai
macam finah dan hinaan!
Orang yang suka memfitnah dan menghina orang lain, memang sangat
senang kalau orang yang difitnah atau dihinanya itu hancur berantakan, karena
memang itu tujuannya. Maka kalau difinah atau dihina lantas mundur dalam
perjuangan atau menenggelamkan diri ke pojok-pojok dunia, maka yang tukang
fitnah dan tukang hina akan semakin senang, karena sasarannya berhasil.
Ayo
bangkit dan terus berjuang! Ingat sekali lagi,
tak ada kesuksesan yang didapat tanpa ada proses untuk menggapainya dan di
dalam proses itu akan ada, dan selalu ada hambatan, rintangan, ujian, cobaan
dan selalu ada kerikil-kerikil tajam di sepanjang jalan kehidupan, hingga kaki
ini berdarah-darah. Itulah hidup dan hidup memang perlu perjuangan dan sang
pejuang tak kenal kata putus asa, tak ada kata mundur dan tak ada kata
menyerah, apapun rintangan, ujian atau cobaannya. Karena sang pejuang selalu
punya keyakinan: “ di balik awan ada matahari, di
balik kesusahan akan ada kemudahan dan di ujung penderitaan itu ada kebahagiaan
yang sedang menanti”
JADI , TERUSLAH BERJUANG DI JALAN DAKWAH INI, KAWAN!
KARENA KITA INI SATU DAN TERUSLAH SEMANGATT !!! ALLAHUAKBAR !!
sumber : eramuslim





0 komentar:
Posting Komentar